Ikhlas dalam berbuat adalah tidak masalah bagimu untuk dimaki ataupun
dipuji atas apapun yang telah kau lakukan. Bukankah hatimu sediri telah
tersenyum seraya bangga serta mengucap syukur bahwa kau telah melakukan
yang terbaik yang kau bisa, dan Allah pun insyaallah menghargai setiap
kebaikan dan niat tulus yang bahkan teralfa dari penglihatan manusia.
Ikhlas adalah saat kau menyambut pukulan dari lawanmu dengan
kelembutan sifat yang menyejukkan, bahkan bagi batinnya sendiri.
Lihatlah betapa seseorang yang jahat kepada kita ternyata sedang tidak
mengerti arti sebuah cinta kasih. atau mungkin dia tidak tahu bagaimana
cara mengekspresikan dan meredam amarahnya sendiri, sehingga hanya
sembarang cara dia gunakan untuk sekedar merepresentasikan protes
jiwanya.
Ikhlas adalah tentang mengerti lawanmu yang begitu berambisi
mengalahkan dan menyakitimu. Kasihanilah dia dengan kasih sayang, yang
karena dia tidak mengetahui bahwa bumerang yang dilemparnya kepadamu
tersebut akan berbalik lebih membabat habis kehormatan dan martabatnya
sendiri.
Ikhlas dalam menyadarkan adalah tuturkan perkataan yang lembut,
seakan kau perlakukan lawanmu seperti kau ingin seperti orang lain
memperlakukanmu. Bahkan Allahpun maha lembut dan mencintai kelembutan.
Jikapun kau harus mengambil batas yang jelas dan tegas atas sebuah
tindakan, lakukan dan jelaskan kepadanya bahwa inilah bentuk kasih
sayangmu terhadapnya yang meskipun sedikit sakit namun akan berakibat
baik baginya.
Ikhlas dalam memaafkan adalah kau telah sepenuhnya memberikan senyum
kepada lawan yang telah menyayat masa lalumu, dan kemudian merangkulnya
kembali sebagai kawan baikmu. MasyaAllah, hal ini tidaklah mudah, namun
apa yang sulit bagi orang yang sedang jatuh cinta. Bahkan hal yang di
luar nalar sekalipun dapat dijangkaunya karena kedalaman cintanya. Dan
jatuh cinta mu kepada Allah telah dan akan selalu mengindahkan hari-
harimu, bahkan untuk sesuatu yang tiada pernah mampir di pikiranmu
sebelumnya.
Dan... tidak ada manusia yang mulia... yang tidak memaafkan.
Ikhlas tiada terdefinisikan oleh kata namun hanya bisa dirasakan oleh
hati yang akan sangat terasa damai dalam melewati jalur takdir
berikutnya. Karena ikhlas pula lah yang telah memutuskan mata rantai
keburukan masa lalu yang tetap menyangkut dan menodai masa depan.
Ikhlas itu meringankan walaupun melakukannnya adalah sangat berat
untuk dilakukan. Tapi bukankah hidup adalah memang perjuangan. Dan
ikhlas adalah memang sebuah keistimewaan. Dia hanya tumbuh pada ladang
hati yang subur oleh cinta kepada Allah serta penuh dengan
kebijaksanaan.
Bahkanpun ada ikhlas dalam membenci. Yaitu adalah kau membenci
sesuatu yang nyata- nyata tidak disukai Allah. Bahkan mungkin manusia
mempunyai kecenderungan nafsu yang justru menyukai sesuatu yang hina.
Namun jika hati sudah tertaut kepada Allah, maka kemudahan untuk
memunculkan hal tersebut insyaAllah akan lebih termudahkan. Maka jika
kebencian dan kesakitan itu masih ada, paling tidak tanyakan kepada
diri, apakah kebencian itu murni karena Allah?